Selasa, 11 Desember 2012

Cerpen "Bahagia Itu Sederhana" Karya : Oktavia Dwi Budianti. Tugas Bahasa Indonesia. (Membuat Cerpen Karangan Sendiri)

Kring... Kring... Kring...

Terdengar suara jam weker ku berbunyi. Aku pun segera bangkit dari tempat tidur ini dan memulai aktifitas hari senin seperti biasanya.
           "Kak ayo sarapan dulu" . Teriak mama dari bawah sana. Yap beginilah setiap pagi hari. Aku dan mama hanya sarapan berdua. Aku adalah anak tunggal. Papa ku telah meninggal dunia dua tahun yang lalu. Namaku Eleanor. Sebagai anak perempuan satu satunya, aku ingin sekali membahagiakan mama ku.
             "Mah, Ele berangkat yah." pamitku kepada mama setelah selesai sarapan. "Iya nak... Hati hati di jalan, belajar yang rajin." Kemudian aku salim dan mengecup kening mama ku.
               Di sekolah aku tergolong siswi yang aktif dalam hal apapun. Aku mengikuti ekstrakulikuler PMR dan Pramuka. Selain itu aku punya teman yang sangat akrab, yaitu Shinta dan Talitha.
Saat ini aku duduk di bangku kelas 3 SMP. Yap! Kelas di mana masa berakhirnya kehidupan anak SMP ini.

Tet... Tet... Tet...
Bel istirahat pun berbunyi. Istirahat kali ini aku ingin ke perpustakaan sekolah. Mencari buku biologi dan mempelajarinya untuk ulangan harian besok. Aku pun melangkah sendirian ke perpustakaan. Kedua teman ku lapar, jadi mereka ke kantin. Ruang perpustakaan pada hari ini tidak begitu ramai. Aku pun bebas memilih buku biologi yang tepat. Karena di perpustakaan ini banyak sekali buku biologi. Hingga aku pun bingung.

BRAK.....
Aku pun menoleh ke belakang. Ternyata ada seorang adik kelas laki laki yang sedang mengangkat buku, lalu buku itu terjatuh. Aku pun segera membantu dia membereskan buku itu.
            "Terimakasih kak..."
            "Iyap sama sama. Lain kali lebih hati hati yaah." Jawab ku seraya melontarkan senyuman. Adik kelas itu pun hanya membalas dengan anggukan kepala dan senyuman.

*****

"Kak ayo makan malam dulu." Teriakan mamah pun menyadarkan lamunan ku. "Yaa tuhan... Senyuman adik itu hanyut dalam fikiran ku." "Kak ayooo." Mama pun memanggil ku untuk yang ke dua kalinya. "Iya mah." Aku pun segera menyautinya.
Selesai makan malam pun aku masih terheran-heran. Kenapa bayangan adik kelas yang di perpustakaan tadi itu masih melintas di fikiran ku. "Ah sudahlah... Lebih baik aku tidur." bisikku kepada diriku sendiri.

          Hari pun telah berganti. Dan aku masih saja penasaran terhadap adik kelas itu. Di jam istirahat yang sama... Aku pun ke perpustakaan itu lagi. Siapa tahu saja aku bertemu lagi dengannya. Dan dugaan ku tepat! Tetapi kali ini dia berdua. Mungkin bersama temannya. Aku pun pura-pura mencari buku. Dan...
           "Hai kak." Sapa adik kelas itu dengan senyum hangatnya.
            "Eh.. Hai juga." Jawabku dengan nada setengah gugup.
             "Kakak senang baca fisika?"
             "Ha? Ah tidak biasa saja kok. Hehe." Jawab ku dengan nada yang linglung karena baru sadar kalau aku sedang memegang buku fisika.
              "Oiya kak. Nama kakak siapa? Tidak enak mengobrol tanpa mengetahui nama orang yang kita ajak ngobrol hehe." Tanya adik kelas itu sembari cengengesan.
               "Nama ku Eleanor. Panggil saja Ele." Jawab ku seraya menjulurkan tangan.
                 "Nama yang indah kak. Nama aku Alif kak. Oiya kenalin ini teman ku namanya Afif." Aku pun menjawabnya dengan anggukan dan senyuman.

*****

Tanpa disangka hubungan aku dengan adik kelas itu berjalan baik. Bahkan aku sudah sering mengobrol lewat pesan singkat sms maupun lewat chatt.
             Alif, orangnya asik,seru,perhatian,gemar bikin lelucon,gemar main marawis. Afif, orangnya cenderung mengarah ke soal mata pelajaran. Aku akui, dia memang pintar. Asik juga orangnya. Alif dan Afif, adik kelas ku yang membuat hari-hari ku makin berwarna.
              Tetapi... Aku mulai menyukai dia. Aku mulai mengaguminya. Entah kapan perasaan ini muncul. "Alif..." bisikku perlahan di bawah langit langit kamar tidur ku. Tuhaann aku menyukai Alif. Di malam itu pun aku berfikir, mengapa aku bisa menyukai nya? Mengapa perasaan ini datang tiba-tiba? Aku bingung.

*****

Sudah 6 bulan lebih aku menaruh hati pada adik kelas itu. Berbagai konflik aku lewati. Seperti teman sekelasnya yang suka dengan dia. Namanya Riri.
               "Kak jangan ambil Alif ya." pesan singkat itu muncul di inbox facebook ku tiga hari yang lalu.
Aku pun tidak mengerti apa maksudnya. Apakah dia pacar Alif? Ah tidak mungkin. Alif mengaku kalau dia tidak punya pacar. Mana mungkin Alif berbohong. Atau... Dia penggemar Alif? Yap. Dapat aku simpulkan bahwa Riri adalah penggemar Alif. Sama seperti ku. Ah sudahlah aku tidak terlalu memikirkannya.

*****

Hari ini adalah hari Minggu. Hari dimana aku tidur sepuasnya karena aktifitas ku yang sangat padat dari hari senin sampai sabtu. Tidak ada yang boleh mengganggu tidur ku ini.

Tiba-tiba handphone ku pun berbunyi nada panggilan masuk. "Aduh siapasih yang telefon pagi-pagi gini. Ganggu saja." Desis ku. Aku pun segera bangkit dan mengangkat telefon itu. "Halooo..." jawab ku dengan nada memelas. "Hai kak! Lari pagi yuk sama aku dan Afif." Mata ku pun segera melek 100% . Ternyata yang menelfon Alif. Adik kelas itu. "Kak... Kak... Masih nyambungkan telefonnya?" Suara Alif di seberang telefon sana menyadarkan lamunan ku.
           "Eh iya... Kapan? Sekarang?" jawab ku.
            "Yaiyalah kak sekarang. Yakali nanti malem. Pokoknya aku sama Afif nunggu kakak di taman seberang yaaa! Jangan lama lama. Sampai ketemu kaaa."
Telefon itu pun berakhir. Seketika jantung ku berdebar kencang. Ada apa gerangan Alif mengajakku lari pagi? Ah tidak tidak. Jangan ke geer-an dulu ah. Aku pun segera bersiap-siap dan menuju ke taman. Di taman ternyata sudah ada mereka berdua. Kami bertiga pun berolahraga pagi di taman itu. Sekitar jam setengah sembilan kami pun beristirahat duduk di atas rumput yang di hiasi pepohonan rindang.
                "Haaah capek." Aku pun mengeluh.
                "Kak haus? Biar ku belikan minum dulu yah. Kakak ngobrol ngobrol dulu aja sama Afif." Alif pun segera meninggalkan kami berdua.

Suasana pun menjadi hening. Aku tidak terlalu dekat dengan Afif. Karena kita sms-an pun hanya seperlunya. Tiba-tiba Afif membuka percakapan...
                 "Suka sama Alif yaa kak?"
                  "Eh? Enggak. Kata siapa kamu berita gituan?"
                  "Banyak yang bilang lagi kak. Banyak yang udah tahu juga."
                   "Tapi enggak bener berita gituan." Jawab ku dengan nada gugup.
                   "Kak, jujur aja sama aku. Aku itu termaksud fans kakak. Jadi hingga kakak lagi dekat dengan laki-laki siapa pun bahkan aku cari tahu. Alif sempurna yaa kak." Jawab Afif panjang lebar dengan nada setengah melas.
                     "Kamu ngomong apaansih fif? Aku gak ngerti ah."

Suasana pun kembali hening.

                       "Hai! Ini minumannya. Kok diem ginisih kalian? Gak seruuu!" Alif pun membuka pembicaraan dengan nada khas dia, suara yang periang. Aku pun meneguk minuman yang baru saja di beli Alif.
                    "Kak ele. Si Afif udah nyatain perasaannya ke kakak belum?" Tanya Alif. Seketika itu pun aku kaget. Minuman yang sedang aku minum pun sedikit tumpah.
                      "Apaansih lif. Kak ele sukanya sama kamu tahu. Kamu nya saja tidak peka."
                       "Eh? Apaansih ini kok jadi kayak gini. Kan rencana kita cuman olahraga pagi aja kan? Yaudah yah aku mau pulang." Jawab ku dengan nada sedikit kesal dan beranjak pergi meninggalkan mereka. "Kak tunggu." Alif menarik tangan ku. "Kak, Afif mengagumi kakak sejak pertama jumpa di perpustakaan. Selama ini Afif memendamnya kak. Afif malu untuk mengakui perasaannya kepada kakak. Aku tahu kakak sukanya sama aku. Tapi kak, cinta itu di pilih kak, bukan memilih. Jatuh cintalah pelan-pelan kak. Jangan sekaligus, sakit nanti kak." Alif menjelaskan maksudnya sedari tadi dengan panjang lebar. Tanpa ku sangka aku pun meneteskan air mata. Benar kata Alif, cinta itu dipilih, bukan memilih. Percuma selama ini kita memilih cinta, tapi orang yang kita maksud gak mencintai kita. Aku pun beranjak duduk di sebelahnya Afif.
                    "Jujur dong makanya. Jadi aku tahu maksud kamu tadi itu apa." Aku membuka pembicaraan dengan Afif. "Aku cuman takut, kak." . Afif pun menggenggam tangan ku.
                 "Jadi kita jadian?"
                 "Siapa bilang? Geer kamu kak."
                 "Buktinya kamu gak mau ngelepasin tangan aku dari tangan kamu."

Afif pun menunduk malu. Terlihat senyum khasnya. Alif pun meninggal kan kita berdua di taman itu.

Hari yang indah. Bahagia itu sederhana. Ketika kita memilih orang yang mencintai kita...tanpa paksaan.

Selesai~

1 komentar: